Translate

Rabu, 26 Maret 2014

Nada Sang Maestro



Nada Sang Maestro
By : G.a & G.i  ( 26 March 2014 )


Terdampar dalam sebuah irama
Irama sendu bernotasikan klasik
Not balok berjajar serasi dalam notasi
Perlahan mendayu terdengar sebuah melodi
Melodi yang berdengung menjadi lagu
Lagu,... nyayian perwujudan emosi jiwa

Ya .... musik
Musik yang terangkai indah dan serasi
Jiwa musikalitas hadir dalam kesenduan hati
Mewujudkan  isi hati dalam sebuah nada
Bukan berlebihan , tetapi melainkan pencitraan
Berbalutkan nada indah menghempas ruang jiwa
Ruang jiwa yang kosong tanpa seni
Begitulah aku menyebutnya

Nada Cinta ........
Cinta bukanlah tersurat, melainkan tersirat
Cinta bukanlah kata, melainkan perwujudan
Bukanlah siang dan malam, melainkan waktu
Romansa percintaan seperti sebuah notasi lagu
Kita manusia adalah instrum en
Instrumen yang mewujudkan suara
Instrumen bersuara sesuai dengan aba – aba

Ya.... disitulah ada sosok dirigent
Sosok  yang  mengatur  bunyi – bunyian dari instrumen
Tak ada yang bisa mengatur Sang Dirigent
Mengatur kapan musik ini bernada melow
Mengatur kapan musik ini bernada sendu
Mengatur kapan musik ini bernada cepat
Mengatur kapan musik ini bernada keras
Dan Kapan musik akan berhenti secara tiba – tiba

Kawan ...
Lagu yang terwujud dari rangkaian notasi hanyalah sebagai kiasan
Kiasan tentang Romantika Percintaan dari Sang Maestro kita
ya .... Dia lah Allah SWT , Sang Maha Maestro musik kehidupan
Ritme yang terwujud tidaklah selalu sama
Tempo yang tak selalu stagnan
Ketukan sajak yang tak selalu tetap
Sadarkah, kita hanyalah sebuah instrumen
Tanpa Sang Dirigent, kita tak akan berbunyi merdu
Walau itu sendu, disitulah kasih sayang Allah SWT tercurahkan
Sadarkah kawan, Romansa Percintaan adalah sebuah Lagu yang harus kita nikmati dan di syukuri
Bagaimanapun bentuk susunan notasi itu, di situlah kita belajar untuk menikmatinya
Betapa manis, pahitnya lagu itu, ingatlah jika Sang Maestro Dirigent akan memberikan kejutan luar biasa di akhir nada dalam sebuah  Lagu

Senin, 24 Maret 2014

GeMuRuh Sang AwAn











GeMuRuh Sang AwAn
By : G.a & G.i ( 24 – 03 – 2014 )


Gemuruh itu datang lagi
Pecah suaranya memekakkan indra pendengaranku
Serontak ku berlari untuk memutup jendela
Tak sengaja kupandangi sebentar
Ya sebentar saja
Hanya beberapa detik
Kupandangi rupa Sang Awan
Gelap, keabu – abuan dan tampak kelabu
Semakin kupandangi, semakin jelas rupa nya
Rintik – rintik hujan pun mulai menetes
Menetesi bumi, membasahi segala yang ada di bumi
Disaat itu pula ku turut dalam kesenduan Sang Awan
Pekikan suara gemuruh itu seolah menerpa dalam jiwaku
Jiwaku yang sedang berupaya
Berupaya menjadi tegar
Tapi ...... suara itu menggoyahkan jiwaku
Jiwaku terlalu rapuh
Rapuh seperti akar serabut sang padi
Dan ketika itu pula, tetesan air mata menghujani wajah ku

Wahai Sang Awan
Mengapa gemuruh itu datang lagi ?
Mengapa tak badai saja yang datang ?
Mengapa bukan petir yang hadir ?
Mengapa bukan Topan yang menyapa ?
Sekalian saja jiwaku hancur
Hancur lebur seperti pasir dalam genggaman tangan

Marah ??
Ya aku memang marah
Lantas apa yang bisa ku lakukan ?
Aku kecil, aku sangat kecil darimu Sang Awan
Aku hanyalah molekul di hadapanmu

Luka ?
Ya aku terluka
Terluka seperti tersayat sembilu yang tumpul
Mengapa tak kau sayat saja dengan pedang yang tajam
Sekalian saja jiwaku tewas
Tewas tak berbekas karena aku merasa puas
Puas akan hujan, mendung yang hadir secara tiba – tiba

Tahukah engkau Sang Awan
Aku tahu apa maksudmu memberiku gemuruh
Ya gemuruh bukan badai, topan ataupun petir yang menakutkan
Karena kau punya kejutan untukku
Kejutan indah dan sangat luar biasa yang masih menjadi rahasiamu
Entah kapan kau menghadiahkanku dan aku Yakin dan Percaya kau akan memberikannya di waktu yang tepat
Sebuah pelangi yang indah di saat gemuruh dan hujan mulai usai
Engkau terlalu baik untukku
Engkau terlalu indah bagiku
Engkau terlalu sayang padaku
Hingga aku tak mampu meluapkan emosiku terhadapmu
Kau bagaikan salju dalam diriku
Senantiasa menyejukkanku walau terkadang kau memberikan gemuruhmu
Satu hal yang aku yakini “ Gemuruh, turunlah Hujan setelahnya, dan disitulah Pelangi akan Terlukis Indah di Wajah Sang Awan “

Sabtu, 22 Maret 2014

Wajah Itu adalah Ayahku





Wajah Itu adalah Ayahku
By G.a & G.i ( 23 March 2014 )



“ Aku hanya memanggilmu Ayah, saat aku kehilangan arah........
  Aku hanya mengingatmu Ayah, saat ku telah jauh darimu ........”

Sepenggal lirik lagu dari Seventeen Band, dalam judul “ Ayah ”
Tatkala itu, ku terburu menuju satu ruang
Ruang yang mungil dan sederhana tersekat papan kayu yang tampak rapuh
Ku lemparkan pandanganku, dan mencari – cari yang hendak ku cari
Ku dekati sosok yang sedang terjaga oleh Malaikat Allah
Ku pandangi seksama raut wajah nya yang mulai menua
Ku tamati detail bagaimana lekukan wajah nya yang mulai tampak letih
Sesekali ku ingin menyentuh wajah nya, membelai wajah nya, ku kecup kening nya, serta ku peluk erat dirinya
Tapi.... ku urungkan niatku.... tak sanggup aku mengganggu ketika beliau sedang terjaga

Wajah itu kupandangi dengan teduh, hingga tak sadar tetesan air mata ini membasahi wajahku
Wajah itu telah hadir sejak awal ku hadir di dunia ini
Ia lah yang pertama kali mengumandangkan Adzan di telingaku’
Orang Pertama yang menimangku sebelum Ibu
Orang Pertama yang menyambut mesra penuh kasih sayang saat ku hadir di dunia
Tahukah teman, Wajah itu tak pernah letih untuk mendampingi kehidupanku
Jasa yang begitu banyak tanpa perhitungan terhadapku
Ya ... dalam Islam Ibu adalah sosok Utama dalam kehidupan kita
Tapi, tahukah teman .....
Tanpa Ayah kita tak bisa seperti ini
Ayah lah yang membuat kita Tegar
Ayah lah yang membuat kita Kuat
Ayahlah yang mengajari kita untuk berani menghadapi kerasnya dunia
Teman, sadarkah jika kita sudah terlalu banyak dan sering menggores luka di hatinya ??
Sadarkah jika beliau senantiasa tak pernah letih menafkahi kita ??
Sadarkah jika kita belum bisa membuatnya bahagia ??

Ayah,......
Maafkanlah semua dosa yang ku perbuat terhadapmu
Ampuni aku yang selalu membangkang dari mu
Dalam hati, aku sungguh menyesal
Berdosa sekali jika aku tak menghargai pengorbananmu terhadapku
Ayah.....
Maaf, hingga kini aku belum bisa membuatmu bangga dan bahagia
Aku tak mampu membalas budi baikmu selama ini
Segala cinta, kasih sayang, harta, ilmu, kebahagiaan yang tiada tara darimu

Ayah....
Engkau memang tak seperti Ibu
Kau mendidikku dengan disiplin
Tapi ku tahu, jika disiplinmu lah yang membuat aku berharga diri, kuat dan tegar
Kau memarahiku dengan diam
Tapi ku tahu, jika dalam diammu kau berdo’a agar aku menjadi orang yang lebih baik yang tumbuh dari nurani
Kau mengajari ku apa itu dunia, apa itu kehidupan, apa itu agama, apa itu ilmu dan segala pengetahuan ....
Terkadang ku merasa bosan, tapi itulah cara mu membuat aku jauh lebih berguna dan menjadi pribadi yang luar biasa

Ayah...... kaulah segalanya selain Ibu
Sepenggal Do’a yang ku persembahkan untukmu
“ Ya Rabb, berikanlah kesehatan jassmani dan rohani padanya, berikanlah rezeki yang luar biasa dari langit Mu,  berilah usia yang panjang agar kelak ia menjadi Waliku, mengajari peri kecil ku seperti beliau mengajariku dulu, Jadikanlah beliau sebagai Imam yang sempurna bagi kami, golongkanlah beliau termasuk calon penghuni Jannah Mu bersama Ibu, ketika kau memanggilnya, maka izinkanlah beliau pergi dalam keadaan Khusnul Khotimah ”
Amin Amin Amin Ya Rabbal Alamin,