Translate

Sabtu, 01 Maret 2014

Karena Mushaf ku Jatuh Cinta

                                                    Karena Mushaf ku Jatuh Cinta
                                                  By: G.a & G.i ( 02 March 2014 )

       Di sudut ruangan yang tampak begitu sendu, berhiaskan goresan wallpaper bunga - bunga berwarna jingga, di situlah ku duduk merenung serta berimajinasi tentang sebuah kisah panjang yang teramat letih dan membuatku terasa sesak dan melayang kala ku ingat kisah itu.
       Ya pagi itu ku buka sebuah Mushaf yang bertuliskan goresan – goresan ayat sang Khaliq,pencipta alam semesta ini. Tertuang ayat – ayat indah Sang Khaliq yang senantiasa menjadi pedoman hidup bagi setiap insan manusia. Di situlah kawan, ku teringat sebuah kisah yang mungkin tak bisa terhela oleh sang waktu. Ku lemparkan jauh ingatan pada saat itu.
        Tergambar jelas betapa indahnya Allah membuat skenario kehidupanku, saat itu Ia membawaku untuk mengenali sosok Insan Adam yang tak pernah ku ketahui sebelumnya, berawal dari sapaan persahabatan ku mengenali dirinya. Ku kenali secara tidak sengaja lewat dunia pertemanan maya. Sebenarnya, aku seperti orang yang bodoh yang terlalu mudah untuk tertarik kepada dunia maya yang belum tentu jelas arahnya.
        Hari, minggu, bulan telah kulalui dengan saling bercerita pengalaman sehari – hari, kegiatan keseharian, disinilah rasa ketertarikan itu mulai tumbuh dan berkembang. Cara bicara serta gaya penyampaiannyalah yang mungkin membuat ku sangat tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Perkenalan kami pun sangatlah singkat, hingga kami memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan yang lebih jelas arah dan tujuannya. Aku pun merasa sangatlah bahagia dimana sosok itu lebih memperhatikan keseharianku, menasehatiku, memberikan waktu untuk mendengar segala hal apasaja yang telah kulakukan sehari – hari. Kawan tentu tahu, menjalani hidup banyaklah kisah lika – liku keseharian kita, suka duka, susah senang, dan segala perasaan saat hari – hari yang telah kulalui.
         Aku bukanlah seorang yang bisa menutupi perasaan, ku beranikan diri untuk membagi kisah ku dengan sang Bunda. Ku bercerita tentang Ia, kesehariannya, sesuai dengan apa yang Ia ceritakan kepadaku. Tiba – tiba rasa semangatku yang menggebu – gebu berubah menjadi lesu, seperti bongkahan es yang mencair akibat radiasi panas, kudapati Bunda tidak sepakat dengan apa yang ingin ku lakukan, Bunda tidak menyetujui hubungan ku dengannya, Beliau menilai apa yang telah terjadi diantara kami adalah kebohongan belaka. Mulai saat itulah aku tak berani berbagi cerita dengan Bunda, walaupun sesak rasanya, hanyalah lewat tulisan dalam buku harianlah yang membuat ku lebih baik.
              Hari hari kulalui sendiri tanpa orang ketiga yang mau mendengarkan kisah ini, ku ceritakan semua kepadanya, semua keluh kesah dan perasaan hati ini. Ku dapati beberapa hari kemudian, yakni sebuah paketan kecil yang diberikan Bunda, beliau mengatakn jika paket itu didapat dari Pak Pos yang datang kerumah. Perasaanku pun menjadi penasaran apa yang ada didalamnya. Tertulis alamat pengirim yang kutahu ini bukanlah alamat sekitarku. Ku tenteng dengan penuh kebahagian kedalam bilik kamar kecilku, kubuka perlahan dan Subhanallah.... sebuah Mushaf terbungkus dengan sampul kulit dan bercorak kaligrafi nan cantik. Di dalamnya ku temukan sebuah surat beramplop merah hati, ku baca perlahan dengan penuh rasa kebahagiaan, disana tertulis:

“ Dear, Nisha
Bacalah Mushaf ini ketika kau sedang merindukanku, bukan semata – mata kau anggap aku adalah Mushaf tapi ingatlah perasaan ini tumbuh dari hati, anugrah dari Allah, maka ketika kau merinduku kembalikanlah rasa rindu itu kepada Allah, Ia lah yang mampu mengobati rasa rindu yang meranggas dihatimu, yakinkan dan ikhlaskan perasaan yang hadir diantara kita hanya untuk Sang Maha Cinta, Allah SWT. Tak hentinya ku berdo’a agar cinta ini benar karena Allah dan menjadikanmu sebagai pasangan halalku, menitih kehidupan selanjutnya bersamamu di jalan Allah.
                                                                                               Rizwan “

            Tak terasa air mata ini telah membasahi surat indah ini, tanganku bergemetar dan jantungku mulai berdegup kencang. Tak pernah sebelumnya aku merasakan sesuatu yang seperti ini. Ya kawan, itulah Mushaf yang ia berikan kepadaku sebagai obat rinduku, tak hanya itu, setiap hari ku baca dan ku lantunkan ayat-ayatNya dengan penuh harapan indah bagi kami.
          Setahun sudah kujalani hari – hariku seperti ini, sembari ku menyelesaikan pendidikanku sebagai seorang pengajar bahasa Inggris. Tak mudah memang kulalui hari – hari yang berat seperti ini. Tanpanya ada di dunia nyataku, tanpa Bunda yang mau mendengarkanku tentang kisah kami, Allah lah yang tetap setia bersamaku dan aku yakin akan hal itu.
             Sampai ketika ku selesai dan melakukan wisuda atas pendidikan ku, maka ku mencoba untuk menanggapinya lebih kejenjang yang serius, bermodalkan rasa yakin dan percaya bahwa cinta kami hadir karna Allah, ku beranikan diri untuk memintanya datang kepada orang tuaku. Tapi, sekali lagi tidak lah mudah seperti membalikkan telapak tangan. Dirinya tidak bisa datang pada orangtuaku, hanyalah karna sebuah Visa ia tak bisa datang meminangku secara langsung. Kawan, saat itulah aku mulai hampir putus asa, ku habiskan waktu – waktu sulitku untuk membaca Mushaf agar ku mendapatkan kekuatan keyakinan atas hubungan kami, jika ia memanglah jodohku maka ku memohon pada Nya agar mengizinkan kami untuk menikah, jika tidak maka buatlah pertanda bahwa ia bukanlah jodohku dan hilangkan perasaan cinta ini.
             Ikhtiar pun kami lakukan untuk mewujudkan impian kami, hingga ia bertekad untuk hijrah di tempat lain yang notabene dekat dengan negaraku, ya... ia bertekad ke Malaysia mencari kehidupan yang berawal dari nol. Ia pun mau dan menerima pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya walaupun sangatlah berbeda dengan apa yang ia dapat di negara asalnya. Selang beberapa waktu, ia memberitahukan jika ia telah tinggal di Malaysia, dan ia telah menyiapkan diri untuk menjalani kehidupan denganku, sungguh ia bertekad hanya atas dasar rasa cinta ini hadir karena Allah semata. Di saat itulah, aku mencoba untuk berbicara kepada keluarga, ayah dan bundaku, ku berusaha untuk meyakinkan mereka, meyakinkan bahwa aku ingin menemuinya disana dan ku yakinkan mereka aku akan senantiasa menjaga kehormatanku. Meski sulit kudapatkan, akhirnya orang tuaku mengizinkan ku tuk bertandang ke Malaysia dengan persyaratan dari mereka. Kawan, aku melakukan semua ini karena ku yakin cinta ini datang dari Allah, hingga ku memberanikan bertandang ke tempat yang sebelumya aku tidak tahu bagaimana kehidupan disana.
             Seminggu kemudian, ku meminta izin orangtuaku untuk menuju kesana, menuju tempat pertemuanku dengan insan Allah, dengan penuh haru aku mencium tangan orang tuaku, memeluk ayah bunda ku dengan erat, pipi ini basah akan airmata yang hadir saat ku meminta izin pada mereka, setelah aku mendapatkan wejangan maka aku menuju bandara tuk memulai langkah awalku menuju Malaysia.
               Hampir tiga jam perjalanan udara aku lewati dan tiba di Bandara Malaysia, tak kuasa aku menahan airmata, ku merasakan perasaan yang begitu tak karuan. Setelah ku sampai diruang kedatangan, segera ku menelfon ayah bundaku tuk mengatakan jika aku sudah sampai tujuan dengan selamat, ku tahan air mata ini walaupun tak hentinya menetes karena rasa syukur yang luar biasa kudapatkan dari Allah, atas izin orangtualah yang membuat aku sampai disini dengan selamat. Selang beberapa saat, teleponku berdering dan tertulis “Rizwan”, dengan tangan yang gemetar ku angkat teleponnya dan ia mengatakan jika ia ada di pintu keluar yang tepatnya di belakangku. Saat itu, ku palingkan wajahku tuk mencari dimana ia berada. Kudapati seorang yang berdiri dan melambaikan tangan ke arahku, seolah – olah ia lah yang aku cari, ku berjalan mendekatinya dan memastikan jika ia memanglah Rizwan yang telah mengisi hari – hariku selama ini. Dengan lunglai, aku menatapnya, Subhanallah Allahu Akbar, sungguh Maha Dahsyat lah yang mampu mempertemukan kami. Hampir saja aku ingin memeluknya, tapi kami bukanlah pasangan halal, tak tahan airmata ini  berangsur – angsur menetes dan sesekali aku menyeka dalam perjalanan kami menuju tempat peristirahatanku sementara disana.
      Ku kenalinya lebih dekat dengan memperhatikan bagaimana ia melayaniku sebagai seorang tamu yang sangat istimewa. Saat malam tiba ku menelpon keluargaku denga kecanggihan teknologi, melalui ini lah orantuaku dapat tahu secara fisik bagaiman Rizwan yang sebenarnya, dan terlihatlah keceriaan diantara kami dan keluargaku. Disanalah aku bersamanya untuk merencanakan bagaimana langkah kami selanjutnya.
       Kawan, kehidupan itu butuh perjuangan, bukan hanya ikhtiar tapi berdo’a penuh keyakinanlah yang membawa kita ke jalan kehidupan yang lebih baik. Beribu ujian yang kita alami janganlah pernah disesali, hadapi dengan rasa ikhlas dan percaya Allah menguji kita tak akan melebihi batas kemampuan kita. Allah itu Maha Indah dan Maha segalanya, ia senantiasa ada bersama kita, mewujudkan segala apa yang kita inginkan, senatiasakanlah dalam setiap hembusan nafas dengan asma – asma Allah SWT.
 “ Mom, i want sleep, come on Mom” ajakkan putri ku, pertanda aku harus mengakhiri kisah kami, kisah Allah memberi jalan indah bagi setiap insanNya, ya kawan, aku telah resmi menikah dengan RIzwan dan kami telah dikaruniai seorang gadis kecil yang cantik seperti peri Jannah Allah, ku menikah di Malaysia, karena kami tidak bisa menikah di negaraku, langkah ini kami lakukan atas dasar keyakinan jika cinta ini hadir dari Allah, dan karena Allah lah kami bertekad untuk mewujudkan cinta kami menjadi Halal. Rasa syukur yang tiada henti aku panjatkan padaNya, terimakasih yang luar biasa untuk ayah bunda yang telah mendo’akan, merestui kami karena Allah. Disinilah kami bersama dan menjalani kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya, menyiapkan sarapan, menyiapkan kemeja Suamiku sebelum ia berangkat mengajar sebagai dosen, menyiapkan peri kecil ku sebelum pergi kesekolah, dan ku sendiri juga mendapat kesempatan untuk mendidik di salah satu sekolah sebagai guru.Nikmat Allah dan JanjiNya tak pernah ingkar, ku berjanji pada diriku, ku kan mengabdikan diri sebagai Istri dan Ibu yang baik sesuai perintah Allah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar